Marriage; is it love or something else?

  • By Admin Hima EP
  • In TOC
  • Posted 14 November 2017

assortative_mating.jpg

Dinamika Assortative Mating di Indonesia

Pernikahan bagi banyak orang merupakan ritual yang sakral dimana dua insan dapat bertemu untuk membangun sebuah keluarga baru atas dasar cinta. Tapi apakah hanya cinta yang menjadi latar belakang seseorang untuk menikah dengan pasangannya? Assortative mating muncul untuk menjawab apakah ada faktor – faktor lain yang mempengaruhi seseorang untuk menikahi pasangannya dan akan muncul pengaruh ketika terjadi pernikahan tersebut. Assortative mating sendiri dapat diartikan sebagai sebuah pola perkawinan dimana pasangan tersebut keduanya memiliki kesamaan karakterisik, pada umumnya penelitian tentang assortative mating terkait dengan pola perkawinan pada binatang dimana faktor – faktor yang diteliti mencakup besar badan, warna atau pigmentasi kulit, dan juga umur. Namun sekarang penelitian tentang assortative mating mulai mencakup pola perkawinan yang terjadi pada manusia dan faktor – faktor yang diteliti sering terkait tentang latar belakang pendidikan, suku dan ras, agama, dan banyak faktor – faktor sosial lainnya.

Tentunya banyak hal yang mempengaruhi tendensi seseorang untuk menikah dengan orang yang mempunyai karakteristik yang sama dengan dirinya. Sebagai contoh adalah educational assortative mating dimana pasangan yang menikah mempunyai latar belakang pendidikan yang sama, yang dimaksud dengan latar belakang pendidikan disini adalah jenjang pendidikan yang diraih pasangan tersebut contohnya adalah sarjana, lulusan SMA, lulusan SMP atau sekolah dasar, dan bisa juga tidak mengenyam pendidikan sama sekali. Contoh lain adalah assortative mating berdasarkan ras atau dengan lingkup yang lebih sempit lagi berdasarkan suku atau etnis. Apakah individu dengan ras tertentu lebih memilih menikah dengan pasangan yang ras nya sama, atau orang jawa tendensi untuk menikah dengan orang jawa juga tinggi. Tentunya banyak yang mendasari itu semua, bisa karena kultur atau adat dari suku itu sendiri, atau memang ada keinginan meneruskan keturunan dengan ras yang sama juga, banyak sekali kemungkinan – kemungkinan yang bisa menjadi dasar orang untuk memilih pasangannya terlepas dari yang namanya cinta.

Banyak studi di berbagai negara tentang kondisi assortative mating di negara tersebut dalam kurun waktu beberapa tahun dan efeknya untuk suatu fenomena tertentu. Sebagai contoh, penelitian yang dilakukan oleh Eika, Mogstad, dan Zafar (2014) tentang assortative mating di Amerika dan Norwegia pada tahun 1980 sampai 2007 menemukan bahwa penduduk Amerika dengan tingkat pendidikan yang sama akan mempunyai tendensi dua kali lipat untuk menikah, sementara di Norwegia hasilnya adalah 1.5 kali lipat tendensi untuk menikah dengan tingkat pendidikan yang sama. Sementara penelitian yang dilakukan Grave dan Schmidt (2012) tentang dinamika assortative mating di Jerman pada tahun 1990 sampai 2005, menunjukan bahwa menikah dengan pasangan yang berada pada kelompok sosial-ekonomi yang sama justru akan memperparah economic equality dan bertambah nya angka assortative mating di Jerman juga bukan karena meningkatnya rata – rata pendidikan yang ditempuh masyarakatnya, melainkan karena perubahan preferensi pasangan untuk yang beredukasi rendah. Penelitian selanjutnya yang dilakukan oleh Gonzalez-Sancho dan Beck (2009) menunjukan bahwa ada hubungan yang positif terhadap educational assortative mating terhadap kesiapan dalam pengembangan pendidikan terutama pada indikator sosial dan emosi nya.

Penelitian – penelitian tersebut menunjukan bahwa banyak sekali faktor yang dipengaruhi oleh keputusan individu untuk menikah dengan pasangan yang mempunyai kesamaan pada latar belakang, fakta – fakta dari penelitian tersebut juga menunjukan bahwa keadaan assortative mating di Jerman meningkat pada latar belakang pendidikan pada 15 – 30 tahun terakhir ini terutama pada individu yang berpendidikan rendah. Sementara di United States, pernikahan yang terjadi pada pasangan dengan latar belakang pendidikan rendah membuat disparitas terhadap pendapatan rumah tangga semakin tinggi. Lantas bagaimana dengan pola pernikahan yang terjadi pada Indonesia?

Dengan menggunakan data dari Indonesian Family Life Survery (IFLS) dari tahun 2000 sampai dengan 2014 tercatat bahwa ada 2.204 pernikahan yang terjadi di Indonesia dimana pasangan homogamy (sebutan lain untuk pasangan assortative mating) mencapai angka 70,92% dengan total 1.563 pasangan. Otomatis sisanya 29,08% adalah pasangan heterogamy (sebutan untuk pasangan yang tidak menikah secara assortative mating) dengan total 641 pasangan. Pada table 1 sekira nya dapat merangkum pola assortative mating di Indonesia pada kurun waktu 2000 sampai dengan 2014. Perlu diketahui bahwa tingkat pendidikan disini dibagi menjadi tiga tingkat pendidikan yaitu rendah, menengah, dan tinggi dimana tingkat pendidikan rendah mencakup individu yang tidak mengenyam pendidikan sama sekali sampai lulusan sekolah dasar, sementara di pendidikan menangah yaitu individu yang pendidikan terakhirnya adalah sekolah menengah pertama (SMP) atau sekolah menengah atas (SMA), dan pada tingkat pendidikan tinggi yaitu individu yang pendidikan terakhirnya adalah diatas SMA.

Table 1; Assortative Mating Pattern in Indonesia

pattern_assmating.PNG

Sumber; Indonesian Family Life Survey, 2000-2014

Selanjutnya dengan menggunakan model logit regression sebagai berikut;

model_assmating.PNG

dimana dependent variable adalah binary yaitu 1 untuk pernikahan heterogamy (pernikahan bukan homogamy) dan 2 untuk pernikahan homogamy dan untuk independent variable nya terdiri dari edukasi suami (X1) yang mencakup tiga tingkat pendidikan; rendah, sedang, dan tinggi. Lalu umur suami (X2) dan umur suami kuadrat (X22) untuk mengetahui sampai umur berapa suami mempunyai probabilitas untuk melakukan homogamy. Hasil estimasi sendiri menunjukan bahwa, pertama; seiring bertambahnya umur untuk suami, semakin menambah probabilitas untuk melakukan pernikahan heterogamy (tidak homogamy) sebesar 22,1%. Kedua; bertambah nya tingkat edukasi suami sebanyak satu tingkat juga akan menamnbah probalilitas untuk menikah secara heterogamy sebesar 12,9%. Ketiga; tendensi untuk suami melakukan pernikahan secara heterogamy justru akan berkurang sebanyak 5,3% seiring bertambahnya umur. Dapat disimpulkan bahwa meningkatnya tingkat pendidikan suami dan juga umur nya justru akan meningkatkan probabilitas untuk melakukan heterogamy.

Lalu apakah pernikahan secara homogamy atau assortative mating mempunyai pengaruh pada keputusan istri untuk bekerja? Dapat dilihat pada table 2 tentang keputusan istri untuk bekerja dan tidak bekerja berdasarkan tingkat edukasi nya dan tipe pernikahan. Pada pernikahan homogamy, untuk tingkat pendidikan rendah dan menengah, keputusan istri untuk bekerja lebih besar dibandingkan dengan pernikahan heterogamy. Sementara pada pernikahan homogamy ditingkat edukasi yang tinggi justru rendah. Sementara pada pernikahan heterogamy pada ketiga tingkat pendidikan pun tidak ada perbedaan yang signifikan.

Table 2; Wife’s Working Choice Pattern

working_choice_pattern.PNG

Sumber; Indonesian Family Life Survey, 2000-2014

Hasil estimasi juga menunjukan bahwa dengan jenis pernikahan yang heterogamy, kecenderungan istri untuk bekerja akan berkurang sebesar 59,4% dibandingkan dengan istri yang jenis pernikahannya adalah homogamy. Hasil ini didukung dengan kenyataan bahwa sebanyak 777 istri memutuskan untuk bekerja ketika pernikahan nya adalah homogamy dengan tingkat pendidikan rendah.

Dapat disimpulkan bahwa assortative mating merupakan pernikahan yang terjadi pada pasangan dengan latar belakang yang sama baik itu dengan tingkat pendidikannya, etnis, kelas sosial, maupun religious belief nya. Di Indonesia, sebesar 70,59% pernikahan yang terjadi pada tahun 2000 sampai 2014 adalah pernikahan assortative mating berlatar belakang pendidikan atau bisa disebut dengan educational assortative mating, dimana 39,93% nya adalah pasangan dengan latar belakang pendidikan yang rendah dan berumur 13 sampai 24 tahun. Lalu bagaimana dengan probabilitas terjadinya assortative mating? Seiring bertambahnya usia dan meningkatnya tingkat pendidikan suami, justru probabilitas untuk melakukan pernikahan secara heterogamy meningkat sebesar 12,9% dan 22,1% secara berturut-turut. Sementara untuk keputusan bekerja istri sendiri ketika pernikahan yang terjadi adalah pernikahan heterogamy maka kecenderungan istri untuk bekerja akan menurun sebesar 59,4%. Beginilah dinamika pernikahan yang terjadi di Indonesia dari tahun 2000 sampai dengan 2014, banyak faktor yang mempengaruhi pernikahan dan pernikahan pun dapat mempengaruhi keputusan – keputusan yang diambil oleh pasangan yang menikah. Pernikahan tidak hanya tentang cinta, namun ada unsur sosial, ekonomi, dan budaya yang berpengaruh disana.

References Lists

Beck, A., & González-Sancho, C. (2009). Educational assortative mating and children’s school readiness. Center for Research on Child Wellbeing Working Paper.

Eika, L., Mogstad, M., & Zafar, B. (2014). Educational assortative mating and household income inequality (No. w20271). National Bureau of Economic Research.

Siow, A. (2015). Assortative Mating in the Marriage Market.

Grave, B. S., & Schmidt, C. M. (2012). The dynamics of assortative mating in Germany.

Hits 542