COMFORT ZONE: WHERE WILL WE GO?

  • By Admin Hima EP
  • In TOC
  • Posted 31 Mei 2018

zzzz

created by:

Fready Wijaya

Salma Nabilla

 

     Kebanyakan orang beranggapan bahwa ​comfort zone merupakan zona yang harus ditinggalkan? Tidak sedikit orang mengira bahwa kondisi yang dihadapi saat ini adalah kondisi yang paling nyaman dalam hidupnya. Padahal belum tentu kondisi kehidupan saat ini menjadi kondisi yang paling nyaman untuk kehidupan Anda nantinya! Sama halnya dengan perekonomian negara kita saat ini, bukan berarti pertumbuhan yang tinggi di kuartal I tahun 2018 saat ini menunjukkan bahwa kita sudah pada keadaan yang nyaman! Perlu diketahui pertumbuhan ekonomi Indonesia menurut badan pusat statistik (BPS) jika dibandingkan pada periode yang sama tahun 2017 meningkat dari yang semula 5,01% menjadi 5,06%. Begitu juga pada tingkat ekspor pada periode yang sama tumbuh 8,78% menjadi 44,26 milliar dollar AS. Namun nyatanya, bumi juga akan terus berputar, belum tentu semua kejadian akan terulang. Dunia akan selalu berkembang, harga-harga pun tunduk pada perputarannya. Sehingga perekonomian yang dikatakan stabil saat ini belum tentu stabil di masa mendatang. Sama halnya dengan perekonomian Korea Selatan yang melambat dari kuartal I menuju kuartal II tahun 2017. Berdasarkan data laporan​ Bank Of Korea (BOK) tingkat ekspor negara menurun hingga 3%, selain itu perekonomian negara juga hanya tumbuh 2,7%. Hal ini menandakan bahwa perekonomian akan selalu berkembang dan bahkan menurun hingga mencapai titik puncaknya yang bisa kita sebut dengan ​“comfort zone”. Indikator penilaian suatu perekonomian negara dapat diambil dari beberapa analisis teori pertumbuhan ekonomi yang ada. Teori-teori itu yang akan menjadi dasar dalam menentukan kondisi perekonomian suatu negara pada kondisi tertentu.

     Beberapa teori perekonomian itu diantaranya adalah (1) Teori pertumbuhan Adam Smith yang menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi di pengaruhi oleh 2 faktor yakni output total (SDA, SDM, dan Persediaan Modal) dan pertumbuhan penduduk (luas pasar dan laju pertumbuhan ekonomi); (2) Teori pertumbuhan David Ricardo yang menjelaskan bahwa aspek teknologi dan akumulasi modal merupakan faktor terpenting dalam pertumbuhan output; (3) Teori pertumbuhan Schumpeter yang menjelaskan bahwa faktor inovasi adalah pendorong utama dan dasar dalam proses pertumbuhan ekonomi; (4) Teori pertumbuhan Solow yang mengatakan bahwa perekonomian merupakan seluruh rangkaian dari kegiatan yang bersumber dari 4 faktor yakni manusia, akumulasi modal, teknologi, dan output; (5) Teori pertumbuhan Neo-Keyness yang menyatakan bahwa investasi adalah peran utama dalam penambahan modal dan sebagai penentu dalam proses pertumbuhan ekonomi; dan masih banyak teori lain yang mendukung.


z

Robert Sollow, ​Source Of: Anonim

 

     Teori pertumbuhan ekonomi menurut Robert Sollow merupakan salah satu teori aliran neo klasik yang lebih menekankan pada akumulasi modal dalam bentuk tabungan dan investasi, kenaikan kualitas dan kuantitas tenaga kerja, dan perkembangan teknologi. Akumulasi modal merupakan faktor utama terjadinya pertumbuhan ekonomi dalam suatu negara. Yang mana dapat mempengaruhi kualitas tenaga kerja serta perkembangan teknologi. Semakin besar modal yang dimiliki, pertumbuhan ekonomi suatu negara juga akan mudah tercapai. semakin baik kualitas serta bertambahnya kuantitas tenaga kerja mempengaruhi pertumbuhan ekonomi suatu negara. Semakin banyak tenaga kerja, output yang dihasilkan pun akan semakin banyak dan mendorong tingkat penawaran agregat output yang mendorong pertumbuhan ekonomi. perkembangan teknologi akan memudahkan proses produksi output. Menurut Sollow, teknologi bersifat​pure public goods yang tidak dapat imbalan dalam proses produksi dan memiliki karakteristik ​non-rival goods dan​ non-excludable goods. Maksud dari non-rival goods adalah teknologi tidak memiliki saingan dalam medapatkannya. Sedangkan non-excludable goods adalah setiap negara memiliki kesempatan untuk memanfaatkan teknologi dengan biaya rendah bahkan tanpa biaya. Kondisi ​comfortzone (steady state) akan tercipta dengan adanya 2 sifat teknologi tersebut. Asumsi ​constant return to scale menjelaskan dengan adanya penggandaan kapital dan tenaga kerja dengan teknologi yang tetap dapat meningkatkan jumlah produksi. Kapital dan tenaga kerja menentukan besarnya pendapatan per kapita masyarakat. Selain itu tabungan merupakan bagian tetap dari pendapatan nasional. yang mana jika semakin besar tabungan yang diinvestasikan semakin besar pula output yang dihasilkan.

 

     Akumulasi modal menurut Sollow merupakan hal yang penting dalam menopang pertumbuhan perekonomian. Dengan mengganggap tidak ada perubahan pada jumlah tenaga kerja dan perubahan teknologi, proses akumulasi modal akan ditentukan oleh penawaran dan permintaan terhadap barang. Penawaran terhadap barang menurut Sollow dipengaruhi oleh persediaan modal dan jumlah tenaga kerja. Sedangkan permintaan terhadap barang berasal dari konsumsi dan investasi. Bagaimana ini terjadi? Mari kita simak!

●  Penawaran terhadap barang menurut Sollow Dalam model Sollow penawaran output bergantung pada persediaan modal dan jumlah tenaga kerja.

    Y = F (K,L)

    Dengan asumsi fungsi produksi memiliki skala tingkat pengembalian yang konstan (constant return to scale).

    zY = F (zK,zL)

    Asumsi ini memungkinkan kita untuk mengukur semua kuantitas relatif terhadap ukuran angkatan kerja (gunakan z = 1/L).

    Y/L = F (K/L,1) Y = F(k) = F(k,1)

 

     Skala hasil konstan mengimplikasikan bahwa ukuran perekonomian sebagaimana diukur oleh jumlah pekerja tidak mempengaruhi hubungan antara output per pekerja dan modal per pekerja. Fungsi produksi (Y = F(k)) jika diderivasikan satu kali, akan diperoleh marginal product of capital (MPK). MPK adalah tambahan output yang dihasilkan oleh pekerja setiap tambahan satu unit modal.

MPK = F(K+1) - F(K)

Fungsi produksi menunjukkan bagaimana jumlah modal tiap pekerja (k) menentukan jumlah output tiap pekerja (Y = F(k)).

●  Permintaan terhadap barang menurut Sollow Dalam model sollow permintaan output berasal dari konsumsi dan investasi. Dengan kata lain, output merupakan jumlah dari konsumsi

    dan investasi.

    Y = C + I

    Dengan asumsi pekerja akan menabung sebagian dari pendapatannya sebesar s yang menghasilkan persamaan:

    C = (1-s) Y Y = (1-s) Y + I I = sY

 

    Pertumbuhan persediaan modal erat kaitannya dengan kondisi mapan​(steady state). Persediaan modal dipengaruhi oleh 2 faktor, yakni investasi dan depresiasi. Investasi merupakan

    pengeluaran tempat, usaha, dan peralatan. Sedangkan depresiasi adalah menyusutnya modal lama.

  I = sY

   Subtitusikan fungsi produksi untuk Y, sehingga menghasilkan

  I = s F(k)

 

   Persamaan ini menghubungkan persediaan modal yang ada k dengan akumulasi modal yang baru I. Tingkat tabungan s menentukan alokasi output antara konsumsi dan investasi. Untuk

   setiap tingkat k, output adalah f(k), investasi adalah sF(k), konsumsi adalah F(k) - s F(k).

 

   Dampak depresiasi dan investasi terhadap persediaan modal adalah

  ∆k = I - &k I = s ∆k = s F(k) - &k

 

     Tabungan memiliki seribu manfaat bagi negara. Semakin tinggi tingkat tabungan masyarakat, semakin tinggi persediaan modal yang dimiliki suatu negara yang akan mengakibatkan output perekonomian juga tumbuh pesat. Dengan adanya tabungan, negara dapat mengurangi kemungkinan untuk melakukan utang asing, karena ada dana cadangan berupa tabungan.

     Tingkat tabungan di Indonesia masih dikategorikan rendah. Karena kesadaran masyarakat untuk menabung juga masih rendah. Diperkirakan hanya 19% dari total penduduk Indonesia berusia diatas 15 tahun yang memiliki tabungan. Mereka lebih memilih menghabiskan pendapatan mereka untuk konsumsi daripada harus menyisihkan sebagian pendapatannya untuk simpanan atau pun untuk investasi. Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK) rasio tabungan masyarakat terhadap total produk domestik bruto (PDB) sebesar 30,87% dimana cenderung stagnan 2 tahun terakhir. Hal ini menunjukkan jika tingkat tabungan Indonesia masih rendah dibandingkan negara lain. Misalnya Singapura rasio tabungan terhadap PDB nya sebesar 46,73% dan China sebesar 48,87%. Terlihat sangat jauh perbedaannya.

     Besarnya tabungan yang dilakukan masyarakat ditentukan oleh tingkat pendapatan per pekerja. Namun masyarakat Indonesia hanya menyisihkan 8,5% pendapatannya untuk tabungan. Rumah tangga berpendapatan rendah hanya menyisihkan 5,2% dari pendapatannya. Sedangkan masyarakat berpenghasilan tinggi hanya menyisihkan paling tinggi 12,60% pendapatan untuk masuk dalam dana tabungan.

●  Tingkat Simpanan pada Bank Umum Periode 2013-2017

    Menurut Lembaga Penjamin Simpanan (dalam Miliar)

   zz

   Sumber: Lembaga Penjamin Simpanan

 

     Data diatas menunjukkan bahwa total simpanan di Indonesia cenderung stabil bahkan meningkat dari tahun 2013 hingga 2016 namun menurun di tahun 2017. Dalam 5 tahun terakhir total simpanan Indonesia meningkat 22,8% menjadi Rp. 4.551.683 miliar. Berdasarkan asumsi sollow yang menjelaskan bahwa dalam perekonomian (asums iIndonesia meniadakan ekspor-impor) investasi sama dengan tabungan. Maka dapat dikatakan bahwa Indonesia mengalami pertumbuhan akumulasi modal sebesar Rp. 845.074 miliar. Dalam persamaan sollow diatas telah dijelaskan bahwa memakai asumsi pekerja menabung sebagian pendapatannya maka diperoleh persamaan I = sY, Dimana Y adalah pendapatan negara. Rasio tabungan masyarakat Indonesia terhadap PDB-nya adalah 30,87%, jika dimasukkan ke persamaan akan diperoleh:

I = s

Dimana simpanan masyarakat Indonesia tahun 2017 sebesar Rp. 4.551.683 miliar

I = 4.551.683 miliar

30,87% Y = I

30,87/100 Y = 4.551.683 miliar

Y = 14.744.680,9 milliar

 

     Tingkat tenaga kerja mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi suatu negara. Semakin banyak kesempatan kerja yang ada akan semakin banyak angkatan kerja yang dapat diserap dan mengurangi tingkat pengangguran. semakin banyak tenaga kerja yang ikut serta dalam kegiatan produksi, output yang dihasilkan juga akan bertambah yang akan menaikkan pendapatan. Pendapatan naik maka kesejahteraan akan tercipta dan pertumbuhan ekonomi akan berjalan dengan lancar.

     Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat jumlah angkatan kerja pada Agustus 2017 sebanyak 128,06 juta orang yang jika dibandingkan tahun lalu naik 2,62 juta orang. Komponen pembentuk angkatan kerja adalah penduduk yang bekerja dan pengangguran. Tercatat pada Agustus 2017 jumlah orang yang bekerja adalah 121,02 juta. Sedangkan jumlah pengangguran adalah 7,04 juta. Naiknya jumlah angkatan kerja juga menaikkan tingkat partisipasi angkatan kerja yang tercatat sebesar 66,67 persen, meningkat 0,33 poin dibandingkan tahun lalu. Hal ini menunjukkan bahwa ada kemajuan ekonomi dalam penawaran tenaga kerja.


     Pengangguran di Indonesia terjadi karena beberapa hal. Pertama, kelompok angkatan kerja yang kemampuan dan pendidikannya tidak sesuai dengan yang dibutuhkan oleh dunia kerja. Kedua, kemampuan yang dimiliki angkatan kerja dibawah standar yang diharapkan oleh dunia kerja. Ketiga, tingginya kelompok pekerja miskin yang berjumlah 60 persen dari 128 juta angkatan kerja yang jika masuk kedalam dunia kerja maka tidak akan memiliki karir.

 

Tingkat Angkatan Kerja, Tenaga Kerja, Pengangguran

dan Partisipasi Angkatan Kerja di Indonesia tahun 2013 - 2017

zzz

Sumber: Badan Pusat Statistik

 

     Berdasarkan data diatas, dapat dilihat bahwa jumlah angkata kerja di Indonesia 5 tahun terakhir selalu meningkat. Pada tahun 2017 jumlah angkatan kerja di Indonesia sebesar 128,1 juta orang. Dibandingkan tahun lalu jumlah ini naik 2,62 juta orang. Kenaikan jumlah angkatan kerja berdampak pada meningkatnya jumlah tenaga kerja dan tingkat partisipasi angkatan kerja. tingkat partisipasi angkatan kerja pada tahun 2017 meningkat sebesar 0,33% dibandingkan tahun lalu. diketahui PDB Indonesia adalah Rp. 14.744.680,9 miliar. jika diakumulasikan dengan tenaga kerja maka,

Pendapatan per tenaga kerja = PDB/tenaga kerja

= 14.744.680,9/128.100.000

= Rp. 115.102,895/ tenaga kerja

●  Perbandingan Tabungan per tenaga kerja dari tahun ke tahun

   1. Tabungan per tenaga kerja 2013

       Tabungan/angkatan kerja = 3.706.609 miliar/118.900.000 = 31.174.171,6

   2. Tabungan per tenaga kerja 2014

       Tabungan/angkatan kerja = 4.165.300miliar /121.900.000 = 34.169.811,3

   3. Tabungan per tenaga kerja 2015

       Tabungan/angkatan kerja = 4.473.772 miliar/122.400.000 = 36.550.424,8

   4. Tabungan per tenaga kerja 2016

       Tabungan/angkatan kerja = 4.900.314 miliar/ 125.400.000 = 39.007.464,1

   5. Tabungan per tenaga kerja 2017

       Tabungan/angkatan kerja = 4.551.683 miliar/128.100.000 = 35.532.263,9

 

     Perhitungan diatas menunjukkan bahwa Indonesia cenderung stabil dalam hal jumlah tabungan per tenaga kerja. Tabungan per tenaga kerja menurut asumsi sollow merupakan tingkat kesejahteraan suatu negara. Semakin tinggi tabungan per tenaga kerjanya maka akan semakin tinggi potensi perekonomian negara tersebut. Dengan menghitung tabungan per tenaga kerja kita dapat memperoleh arah perekonomian Indonesia saat ini, apakah sedang menuju dalam keadaan steady state atau bahkan menjauh? Perhitungan diatas menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia sedang berproses menuju steady state sebelum akhirnya turun pada tahun 2017. Dalam 5 tahun terakhir dapat dikatakan bahwa keadaan steady state perekonomian terjadi pada tahun 2016 dengan total tabungan per tenaga kerja sebesar Rp. 39.007.464,1,-. Begitu juga dengan total tabungan pada tahun 2016 yang merupakan puncak dalam 5 tahun terakhir sebesar Rp. 4.900.314 miliar.

●  Tabungan per tenaga kerja dengan tahun dasar 2017 (asumsi Sollow tidak ada perubahan dalam jumlah tenaga kerja)

    1. Tabungan per tenaga kerja 2013

        Tabungan tahun 2013/angkatan kerja tahun 2017 = 3.706.609 miliar/128.100.000 = 28.935.277,1

    2. Tabungan per tenaga kerja 2014

        Tabungan tahun 2014/angkatan kerja tahun 2017 = 4.165.300 miliar/128.100.000 = 32.516.003,1

    3. Tabungan per tenaga kerja 2015

        Tabungan tahun 2015/angkatan kerja tahun 2017 = 4.473.772 miliar/128.100.000 = 34.924.059,3

    4. Tabungan per tenaga kerja 2016

        Tabungan tahun 2016/angkatan kerja tahun 2017 = 4.900.314 miliar/128.100.000 = 38.253.817,3

    5. Tabungan per tenaga kerja 2017

        Tabungan tahun 2017/angkatan kerja tahun 2017 = 4.551.683 miliar/128.100.000 = 35.532.263,9

      Kesimpulan dari perhitungan tabungan per tenaga kerja dengan tahun dasar 2017 diatas adalah bahwa perekonomian Indonesia sedang mengalami perkembangan hingga tahun 2016 sebelum akhirnya turun pada tahun 2017. Hal ini dapat terlihat dari nominal tabungan per tenaga kerja dari tahun ke tahunnya, dari tahun 2013 hingga 2016 meningkat hingga 32,22% menjadi 38.253.817,3 dan turun sebesar 7,11% menjadi 35.532.263,9.

     Berdasarkan beberapa paparan dan perhitungan diatas dapat disimpulkan bahwa menurut asumsi perekonomian sollow berdasarkan perhitungan akumulasi modal menunjukkan hasil pertumbuhan perekonomian dari tahun 2013 hingga tahun 2016 namun menurun di tahun 2017. Perekonomian Indonesia saat ini menurut perhitungan sollow memiliki PDB sebesar 14.744.680,9 milliar. Perhitungan ini didapatkan dengan cara mengalikan proporsional tabungan dengan total pendapatan yang menghasilkan total investasi. Dimana Indonesia memiliki proposional tabungan terhadap PDB sebesar 30,81% dan memiliki jumlah tabungan sebesar 4.551.683 miliar. Menurut perhitungan diatas dalam 5 tahun keadaan nyaman Indonesia (steady state) berada pada tahun 2016 dengan total tabungan sebesar 4.900.314 miliar. Namun, perlu diketahui bahwa kondisi ini masih belum menunjukkan keadaan nyaman yang sebenarnya. Dan belum tentu tahun 2017 lebih buruk dari tahun 2016. Karena untuk menentukan keadaan nyaman (steady state) harus memperhatikan perhitungan tingkat konsumsi yang optimal. Perhitungan ini akan diperoleh dengan cara membandingkan tingkat simpanan optimum dengan tingkat konsumsi optimum menggunakan cara kaidah emas (golden rule). Kemudian membandingkan hasil perhitungan golden rule dengan perkembangan teknologi sebagaimana asumsi kedua menurut sollow dan perkembangan jumlah tenaga kerja sebagai asumsi ketiga sollow. Bagaimana perhitungan ini dilakukan? Dan seperti apa keadaan nyaman Indonesia seharusnya saat ini? Semua pembahasan itu akan kita bahas di kesempatan selanjutnya. Penulis berharap penjelasan diatas setidaknya mampu menjadi refferensi mahasiswa dalam mengaplikasikan teori-teori perekonomian yang ada khususnya asumsi sollow, dan sebagai refferensi bagi para pengamat dalam menilai keadaan perekonomian Indonesia saat ini berdasarkan perhitungan sollow. Semoga perekonomian Indonesia akan terus menuju dan meningkatkan standart steady state-nya sehingga masyarakat dapat merasakan kehidupan yang sejahtera.

Hits 241